Toleransi
dalam Beragama
Keanekaragaman, atau hidup dalam lingkungan
pluralistik, adalah sumber kekayaan budaya negara. Toleransi atau Toleran
dalam bahasa kata ini berasal dari bahasa latin “tolerare”, yang berarti “toleran dan tidak
mencolok”. Toleransi
juga dapat berarti sikap saling menghormati dan menghargai antar kelompok atau
individu (individu), baik dalam masyarakat maupun dalam lingkup lainnya.
Toleransi
dapat menghindari diskriminasi walaupun terdapat banyak kelompok atau kelompok yang berbeda
dalam suatu kelompok masyarakat. Dalam kehidupan masyarakat yang majemuk,
berbagai perbedaan yang ada, seperti perbedaan suku, agama, ras, dan antar golongan, adalah
nyata dan menjadikan megara dan bangsa Indonesia salah satu cita-cita yang diinginkan, yaitu persatuan
yang adil. Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sejahtera berdasarkan
Pancasila dan UUD 1945 dalam berbangsa.
Ketuhanan adalah salah satu elemen penting dalam hidup kita. Kita menjadikan Tuhan dalam setiap
aspek kehidupan kita, jadi itu berarti jujur tentang apa yang Tuhan ingin kita lakukan dengan hidup kita.
Dengan memperkuat hubungan kita dengan Tuhan, kita dapat memperkuat hubungan antar
agama dan
menciptakan toleransi. Penguatan hubungan antar umat beragama akan membawa
perdamaian antar umat beragama, bebas dari perpecahan dan penistaan. Mempererat
tali silaturahmi antar umat beragama memang tidak mudah. Memperkuat ikatan
antar agama berarti menyatukan semua orang tanpa memandang latar belakang
agamanya.
Mempererat hubungan antar agama berarti bersedia menerima segala perbedaan yang ada di antara mereka. Dengan
terciptanya perdamaian antar umat beragama, tercipta perdamaian bagi umat
beragama dan permasalahan yang menyangkut unsur -unsur agama dapat dihindarkan.
Indonesia termasuk dalam negara yang banyak
penduduk dan setiap orang menganut kepercayaan yang mereka percaya sebagai
pedoman hidup mereka. Untuk persoalan agama, negara
Indonesia bukanlah sebuah
negara teokrasi, melainkan secara
konstitusional negara mewajibkan warganya untuk
memeluk satu dari agama-agama yang diakui
eksistensinya sebagaimana tercantum di dalam
pasal 29 ayat (1) dan (2) UUD 1945.
Negara memberi kebebasan kepada penduduk
untuk memilih salah satu agama yang telah
ada di Indonesia dari keenam agama
yaitu agama Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu,
Budha dan Konghucu. Islam memberikan pedoman yang jelas bahwa agama tidak boleh dipaksakan. Di dalam Al-Qur'an mengatakan bahwa setiap orang bebas memilih agamanya. Terdapat ayat
yang berbunyi Lakum diinukum wa liya diin` yang artinya bagimu agamamu dan bagiku agamaku.
Agama tidak mengizinkan
jika seseorang tidak memiliki kepercayaan.
Namun
dapat juga mengganggu jika seseorang memaksakannya. Tentu tidak dibenarkan. Setiap orang bisa memilih agama dan kepercayaannya masing-masing. Ketika sikap dan pandangan tersebut dipraktikkan oleh seseorang dalam menjalankan perintah yang terdapat di dalam
agama nya pada kehidupan sehari-hari, sebenarnya tidak ada masalah.
Agama juga mendorong umatnya untuk menjadi yang terbaik: mengenal, memahami, menghormati, mencintai, bahkan saling membantu, jika Anda dapat mengikuti perintah ajaran agama Anda dan menunjukkan perilaku terbaik Anda, Anda tidak akan memiliki masalah terkait dengan orang lain.
Toleransi baru dianggap tidak diperhatikan karena dianggap ada sesuatu yang menghalangi orang lain. Cacat sebenarnya bukan karena agamanya, tetapi mungkin karena aspek lain seperti ekonomi, sosial, hukum, keamanan, dan
lain-lain. Monopoli kegiatan ekonomi oleh satu individu atau kelompok adalah atau melihat mereka merugikan atau mengganggu kelompok, perasaan kekecewaan dan rasa sakit muncul. Yang lain akan tersinggung jika ada sekelompok orang yang tidak peduli bahkan bertindak merendahkan.
Ini membuat orang lain merasa tersinggung, terhina, atau kalah. Meski berbeda agama, jika bisa menjaga hubungan baik, berlaku adil dan jujur, dan saling menghormati, tidak akan ada masalah hidup bersama. Dari mana pun kebaikan itu berasal, semua orang merasa bahagia ketika diperlakukan dengan baik. Orang yang berperilaku baik diterima oleh semua orang.
Sebaliknya, jika Anda berbeda suku, suku, atau bahkan agama, tetapi kehadiran Anda dianggap sebagai penghalang, itu menimbulkan perasaan dendam. , ketika nilai-nilai sejati diganggu, bangsa, dan agama lain juga ikut terganggu. menjadi bermusuhan. Sebenarnya, ini bukan masalah perbedaan agama, tetapi lebih pada perilaku berbahaya dan destruktif yang membuat orang atau sekelompok orang tidak dapat ditoleransi sepanjang waktu.
Tidak jarang dan terlihat di mana-mana, tetapi juga sangat harmonis di antara orang-orang yang berbeda suku, bangsa dan agama. Termasuk berbeda agama, orang yang berbeda saling menyapa, berbagi cinta dan saling membantu. Ini karena di antara mereka
ada nya kesadaran tentang toleransi antar agama.
Faktor pertama yang mendorong
toleransi dalam kehidupan antarumat beragama
adalah kesadaran beragama. Agama
mengajarkan hal-hal yang baik, dan orang-orang beragama bertindak sesuai dengan
ajaran mereka sebanyak mungkin. Faktor kedua adalah seringnya berpartisipasi
dalam kegiatan sosial. Aktivisme sosial mengajarkan kita untuk saling membantu, mengenali dan
menyebarkan cinta, serta peduli pada sesama. Penggerak ketiga adalah kebijakan
regulasi pemerintah. Kerukunan umat beragama bukan hanya karena agama,
pemerintah juga menggalakkan regulasi yang mendorong kerukunan umat beragama
Ada beberapa kendala untuk disebutkan. Yang
pertama adalah tenggelamnya semangat keluarga. Ketika kekeluargaan berkurang,
orang menjadi individualis yang lebih egois. Disinsentif kedua adalah fanatisme
agama. Cinta agama boleh, tapi tidak berlebihan. Jika Anda melangkah terlalu jauh,
Anda tidak akan dapat melihat perbedaannya dan Anda akan tertutup terhadap
kebenaran-kebenaran lain.
Menurut sila pertama Pancasila, yang dapat
dilakukan generasi muda untuk meningkatkan toleransi antarumat beragama adalah bertindak sesuai ajaran agamanya
masing-masing. Dengan cara ini, Anda dapat memperkuat iman Anda. Jika iman Anda
kuat, Anda akan terbiasa melakukan
hal-hal baik dalam hidup. Selain itu, pengamalan agama yang benar meningkatkan
ketakwaan dan dapat memberikan pengaruh positif bagi diri sendiri dan orang
lain.
Konsep toleransi bermuara
pada sikap
terbuka dan kesediaan untuk mengakui adanya perbedaan jenis yang berbeda, baik dalam
suku, warna
kulit, bahasa, adat istiadat, budaya, bahasa dan agama. Sudah sepatutnya
manusia
mengikuti petunjuk Tuhan dalam menghadapi perbedaan-perbedaan ini. Tuhan adalah
pengingat konstan keragaman manusia dalam hal agama, etnis, warna kulit dan adat istiadat.
Menumbuhkan
sikap toleran secara umum dapat dimulai dengan bagaimana Anda mampu
menghadapi
dan menyikapi perbedaan (pendapat) yang mungkin muncul dalam keluarga Anda, dimulai dengan
membangun kerukunan dan mengenali perbedaan. Dan sadarilah bahwa kita semua
bersaudara. Hal ini menimbulkan rasa kasih sayang dan saling pengertian
yang pada
akhirnya bermuara pada sikap toleransi.
Bagaimana jika kita berbeda?
Bukankah pelangi indah karena memiliki warna yang berbeda? Jika semua warna sama, dimana keindahannya?
Dari segi agama, kita sangat berbeda dalam hal keyakinan kita, tetapi dalam kehidupan
sosial,
kita melihat perbedaan sebagai hambatan dalam kehidupan sosial.
Tidak. Sebagai makhluk sosial, kita saling membutuhkan dan tidak dapat bertahan hidup tanpa
bantuan orang lain.
Tanpa semangat toleransi antar
manusia, akan sulit untuk membawa
perdamaian ke dunia. Mari bersama-sama kita ciptakan toleransi agar setiap
orang dapat menjalani kehidupan yang bahagia dan damai meskipun ada perbedaan.
Komentar
Posting Komentar